Naik ke kelas XI, entah bagaimana ceritanya, kami jadi dekat. Dia sesekali bercerita kepadaku, begitu pula aku. Lama-kelamaan, aku nyaman dan merasa dia tulus berteman denganku. Entahlah mengapa, padahal aku susah untuk menjalin kedekatan yang terlalu dengan orang lain, apalagi sampai menyematkan kata 'sahabat'.
Waktu berlalu, hari berganti. Kami menjadi mahasiswa, berkuliah. Dia di Aceh dan aku, ya, tetap di Medan. Namun, meskipun kami terhalang jarak, kedekatan kami tak berkurang. Malah semakin dekat. Beberapa kali kami menyempatkan untuk bertemu saat masa liburan tiba.
Ketika berjauhan, banyak sekali cerita yang ingin kubagikan kepadanya. Di dalam percakapan kami selalu saja aku katakan, "Cepat pulang ke Medan, dong. Ada banyak hal yang mau kuceritakan." Meskipun beberapa hal sudah aku katakan via pesan atau panggilan suara.
Namun, setiap kali kami bertemu, aku tidak bisa bercerita banyak. Kata-kataku seperti hilang di telan bumi. Aku hanya ingin mendengarnya bercerita, sambil sesekali memeluknya. Pokoknya, menghabiskan waktu seharian dengannya.
Februari 2020 adalah pertemuan kami yang terakhir. Semua ini tentu karena pandemi. Dia yang berasal dari Riau, tak bisa kembali ke Medan. Terlalu banyak larangan dan aturan atas perjalanan jarak jauh, pun juga kekhawatiran mamanya. Ya, aku sedikit kesal, sih, sama Bu S****. Wkwk. 'Maaf, ya, Ibu'.
"Hai, Rehan Afifah Hanjaya. Terima kasih, ya. Terima kasih atas semua kebaikanmu. Terima kasih telah menjadi salah satu nada di dalam melodi kehidupanku. Maaf kalau aku belum bisa membalasnya.
Aku minta tolong sekeluarga, ke Medanlah kau tahun ini, ya. Bilang sama mamamu, kalau kau mau jumpa Audina yang manis pakai banget. Pasti, deh, dikasih. Ehehe. Titip salam untuk Papa, Mama, dan Rara, ya. Kutunggu kau di rumah Tante."

0 Komentar