Katanya, aku ini manusia yang jarang senyum. Mukanya jutek banget, cenderung judes malah—sampai ada yang kasih nama kontakku pakai embel-embel judesnya.
Jadi, semenjak kuliah, lebih tepatnya ketika bergabung ke salah satu organisasi di kampus, aku sering banget dapat pesan yang memintaku untuk senyum. Berbagai macam bentuk pesannya, dari yang super manis kayak aku, sampai yang ada pedasnya dikit.
"Kakak manis, deh, apalagi kalau senyum.""Senyum dong, Kak Iki. Biar makin manis."
"Perbanyak senyum, ya, Kak. Jangan galak-galak."
Tentu saja masih banyak pesan serupa lainnya yang disampaikan langsung ataupun tidak kepadaku.
Aku adalah tipe orang yang tidak terlalu memikirkan apa kata orang terhadapku. Namun, bukan berarti aku tak mau menerima kritik dan saran, ya. Bagiku, tidak semuanya harus diikuti, apalagi sampai harus dipikirkan dengan terlalu.
Namun, di beberapa waktu, kala pesan-pesan itu terlintas di kepalaku, aku sedikit merenung. Apa benar aku ini kurang senyum? Akhirnya, sedikit demi sedikit, aku benahi diri, jadi lebih banyak senyum, walau lebihnya juga tak begitu banyak. Eh, bagaimana, sih? Ah, begitulah intinya.
Lagi pula, senyumku ini mengandung gula yang berlebihan. Jadi, kalau terlalu sering kuberi pada orang, bisa menyebabkan diabetes. Aku kan tidak tega. Ahaha. Kalau emang mau sering-sering lihat senyumku, coba, deh, dekati aku dulu. Terus ajak ngobrol—ajak makan juga boleh, eh. Masa iya, baru kenal, aku senyum terus sepanjang hari ke kalian? Dikira gila, dong.
0 Komentar